Kamis, 16 Januari 2020

               BERAWAL DARI SENYUM 
 Waktunya istirahat. 
"Kau sedang apa? Suara Ray Hermawan membuyarkan lamunan Airin Alena Ananda yang sedari tadi wara-wiri di kepalanya. Airin memalingkan wajah ke arah suara yang tampak mengerjap-mengerjapkan matanya menggoda Airin. 
Sendirian bengong, nanti kesambet baru tau. Rey tampak senang menggoda Airin. Yang di goda justru merengut karna merasa kesendiriannya terusik. 
 "Ahh, kamu Rey menggangu aku tadi lagi asik ngayal. 
"Idih...masih muda ngayal. Emang ngayalin apaan...serus bangett?"
 "Ada banyak hal dalam pikiranku Rey. "Ya sudah kebetulan kamu kesini aku lagi BT nie...."
"Hahh, sejak kapan...tanku yang satu ini  berurusan dengan hati? Goda Rey Hermawan sembari mengangat alisnya.
"Setop! Jangan di teruskan. Gerutus Airin Alena Ananda yang mulai gelisah dan menyipitkan mata mengancam dengan mendengus berat. 
 "Oh, iya...Rey hari ini panas sekali ya?  Airin menatap Rey yang sedari tadi terus menatapnya tanpa Airin sadari. 
"Hem, mau aku traktir minum?"
"Minum?  
Iya. 
Boleh tuh. 
Yu, di sana ada tempat minum yang asik dan lumayan tempatnya. "Aku sudah dua kali kesana. 
"Kamu pasti suka Ar. 
"Baiklah coba kita buktikan apa benar ucapan mu Rey. 
"Aku yakin dan sangat yakin akan hal itu. Rey dengan penuh percaya diri menjemtikan jarinya ke arah Airin. Ia menarik tangan Airin dengan sedikin senyum, ayo cepat kamu pasti sudah tidak sabar ingin melihatnya kan? 
"Oke."

 Tempatnya tidak terlalu luas tapi bersih dan memang enak untuk nongkrong. Apa yang di ceritakan Rey benar adanya. Banyak juga anak-anak seusianya yang sedang nongkrong. Airin menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. 
 "Bagai mana nyaman kan?"
"Em. Lumaya. Dengus airin sambil mengerjapkan mata.
 "Kamu mau minum apa? Minuman yang di botol apa yang cepat saji?"
Rey tersenyum melihat tingkah Airin yang sedikit gugup. Dan memang minuman di sana tidak banyak macamnya. 
Airin menompangkan dagu di meja sambil menerka-menerka apa yang harus mereka minum di hari panas itu. 
  Airin sejumput memonyokan mulutnya yang menambah penglihatan Rey terhadapnya begitu sempurna. 
 "Aku mau minum teh hangat aja Rey. Rey kaget dan cepat mengusap kepalanya yang cepak namun tidak ada yang menampik ganteng. Hari itu ia memang tampak keren. 

"Oke. Aku juga mau yang itu. 
Rey berlalu dari pandangan Airin, namu kali ini Airin medengus panjang. Sahabatku apa kau tau kalau senyumu membangkitkan semangatku? 
Jadi ku harap kau jangan tersenyum padaku. Nanti bisa celaka tak bisa kutanggung derita ini. Diriku memang menyukaimu sejak dulu. 

 Tapi yang benar saja Reykan playboy. Aku tidak mau berebut pria dengan gadis lain. Sunggu tidak siap menderita. 

Hem, Airin gugup. Rey kembali ke tempat duduknya. 
 Ini untuk mu. 
Ini untuk ku.
Hah kenapa begitu Rey?" Mulut Airin protes minta yang punya Rey. 
Ini kan sama saja di buat sama satu orang tidak mungkin rasanya beda Ar. Terang Rey dengan nada mencibir. 
Uuuhh. 
Hah baiklah kita tukeran. 
Ya begitu donk. Airin kesal. Awalnya mau candain Rey tapi sikapnya biasa malah terus tersenyum. 
Oh iya habis dari sini kita ke mana?" Rey melirik arloji emas namun berkarat itu. 
 Hari masih siang Rey melaju ke arah jalan yang sedikit ramai. Di jalan Rey kerap menggoda Airin dengan obrolan yang membuat suasana ceria. Airin yang tersipu-sipu di belakanya menyubit pinggang Rey sekedar mengingatkan agar berhati-hati. Rey menjentikan jarinya dengan gaya imut. Walau wajahnya tertutup helem Rey tetap keren.  Ia baik tidak pemilih dalam berteman. Airin Alena Ananda menyukainya sejak mendaptar di SMA yang sama. Cowo jangung seratus tujuh puluh sembilan. Kulitnya putih dengan mata sedikit sipit dengan mudah menaklukan hati cewe termasuk Airin Alea Ananda. 
 Airin menyukai senyum Rey Basoro sejak pertama bertemu di gerbang sekolah. Ia tak pernah bosan memikirkan wajah Rey yang menurutnya imut kaya kelinci.  

 Rey mencondongkan badaya kearah Airin Alena Ananda dengan sedikit mengoda. Pipinya terasa panas dan gugup. Entah dari mana perasaan itu?" 

 Hai, kalian mau kemana?" Todong Dino nyelip antara Airin Dan Ani Hestarani. 
"Kantin. Jawab Ani singkat.  
Aku juga mau ke kantin. Tapi mana Rey Basgoro?" Kalian tidak mengajaknya?"  
Airin dan Ani hanya saling berpandangan tak mengerti. 
Mengapa kamu nanya begitu Dino? 
Kami kan cewe. Airin mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap Dino dengan tatapan tajam. 
 Airin tunggu. Rey dengan nafas ngengos-engosan menyongsong mereka di koridor sekolah. 
Aku juga mau ke kantin. 
  Airin merasa senang melihat kedatangan Rey yang mencarinya. 
Sejurus Airin membatin. Entah mengapa aku selalu merindukan Rey? Tapi sikap Rey yang bisa saja membuat ku malu dan gugup. Dada ku berdebar apa aku benar-benar menyukainya?"  

 Hoy! Mengapa bengong?" 
"Tidak Ani. Kau mengagetkanku."  
Kalian sudah memesan belum?" Suara Rey mebuyarkan percakapan Ani dan Airin. 
Sett suara Ani medesis, mengapa kau berteriak Rey..?"  Biasa aja kale. Gerutus Ani di buat kesal. 
 Iya maaf Ani yang Cantik. 
Ia sudah kamu yang memesan Rey kita makan sama-sama. Usir Ani. 
 Ani terus saja ngerocos, sampai Arini tidak ada kesempatan untuk menolak.
Hayo. Airin tidak semangat begitu?" Ayo, ngaku kalau tidak aku kasih tau Rey. Kalau saat ini ada yang sedang merindukannya.
 Gap! Dengan cepat mulut Ani bekap oleh Rindu, matanya mengerjap-ngerjap sampai Ani di buat bingung.
Diam jangan keras-keras bicaranya.. nanti Rey dengar.  Airin memonyong-monyongkan mulutnya berharap Ani tutup mulut yang sedari tadi ngerocos terus. 

 Eh, Rey cepat pesan makanan sana, aku nungguin Airin nanti dia kabur. Ani menggoda Airin. 
 Oh, hanya itu yang keluar dari mulut Rey. 

Ponsel Airin tiba-tiba berkedip-kedip, Ani yang melihat namanya asing cepat-cepat merebutnya. 
Halo.. ini siapa?" 
Ini ponsel Airin Alena Ananda?" 
Benar ia temanku, sekarang ada di depanku. Dan kau siapa?" 
Aku Dio Bimantara. Boleh bicara sebentar.. Ani mendesis panjang. Hahh rupanya temanku yang satu ini punya pengagum baru ya..?" Kau memang hebat Airin. 








Bersambung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar